Jejak Emas Lari Jarak Pendek Indonesia – Sore itu di Stadion Ratina, Tampere, Finlandia, udara sejuk tidak mampu mendinginkan tensi tinggi yang menyelimuti lintasan atletik. Di lajur paling luar—jalur kedelapan yang kerap dianggap tidak menguntungkan—seorang pemuda asal Lombok Utara berdiri dengan tatapan tajam. Lalu Muhammad Zohri, nama yang kala itu belum akrab di telinga masyarakat dunia, sedang bersiap menuliskan tinta emas dalam sejarah olahraga Indonesia.
Begitu pistol start menyalak, Zohri melesat bagaikan peluru. Dalam rentang jarak 100 meter yang hanya memakan waktu belasan detik, ia beradu bahu dengan dua raksasa sprint asal Amerika Serikat, Anthony Schwartz dan Eric Harrison. Persaingan begitu ketat hingga mata telanjang sulit menentukan siapa yang lebih dulu menyentuh garis finis. Namun, teknologi tidak menipu. Melalui tayangan ulang, kaki kanan Zohri terbukti mendarat lebih awal dengan catatan waktu fantastis: 10,18 detik.
Kesunyian di Balik Sejarah

Kemenangan Zohri di Kejuaraan Dunia U-20 IAAF 2018 tersebut menyisakan momen getir sekaligus mengharukan. Saat stadion bergemuruh dengan tepuk tangan penonton, Zohri sempat terlihat bingung di tengah lintasan. Sementara pelari lain langsung membalut tubuh mereka dengan bendera nasional, Zohri justru berdiri tanpa simbol merah-putih di tangannya.
Publik tanah air saat itu sedang terhipnotis oleh demam Piala Dunia dan euforia Piala AFF U-19, hingga prestasi sesejarah ini nyaris luput dari pantauan. Namun, momentum sujud syukur Zohri di atas tartan Finlandia akhirnya membuka mata bangsa: kita memiliki mutiara yang berlari lebih cepat dari siapa pun di kelasnya.
Para Pionir: Estafet Prestasi dari Masa ke Masa
Keberhasilan Zohri bukanlah sebuah kebetulan semata. Ia adalah pucuk dari pohon prestasi atletik Indonesia yang akarnya sudah menghujam jauh sejak puluhan tahun silam. Sebelum Zohri, Indonesia telah melahirkan sprinter-sprinter legendaris yang merajai panggung Asia dan dunia.
Berikut adalah para pelari terbaik yang menjadi fondasi kejayaan atletik Indonesia:
-
Mohammad Sarengat Ia adalah manusia tercepat Asia pada masanya. Pada Asian Games 1962 di Jakarta, Sarengat menyabet medali emas di nomor 100 meter dan 110 meter gawang. Catatan waktunya kala itu menjadi standar emas bagi generasi pelari berikutnya.
-
Purnomo Muhammad Yudhi Pada dekade 80-an, nama Purnomo menjadi momok menakutkan bagi pelari internasional. Ia adalah orang Indonesia pertama yang berhasil menembus babak semifinal lari 100 meter di Olimpiade Los Angeles 1984. Prestasi ini membuktikan bahwa postur tubuh bukan penghalang bagi atlet Indonesia untuk bersaing di level tertinggi.
-
Mardi Lestari Melanjutkan estafet Purnomo, Mardi Lestari mengejutkan dunia dengan menembus semifinal Olimpiade Seoul 1988. Ia pernah memecahkan rekor nasional dengan catatan 10,20 detik, sebuah angka yang bertahan sangat lama sebelum akhirnya dipatahkan oleh Zohri.
-
Suryo Agung Wibowo Dijuluki sebagai “Manusia Tercepat di Asia Tenggara”, Suryo mendominasi nomor 100 meter di kawasan ASEAN selama bertahun-tahun. Rekor SEA Games-nya yang mencatatkan waktu 10,17 detik sempat menjadi momok yang sulit ditembus selama satu dekade lebih.
-
Franklin Ramses Burumi Mutiara dari Papua ini sempat menjadi sorotan saat meraih tiga medali emas di SEA Games 2011. Kecepatannya yang eksplosif mengingatkan kita bahwa bakat lari Indonesia tersebar dari ujung barat hingga ujung timur nusantara.
-
Sudirman Hadi Sebagai rekan sezaman Zohri yang juga pernah mencicipi ketatnya persaingan Olimpiade (Rio 2016), Sudirman adalah bukti konsistensi regenerasi atletik Indonesia di panggung dunia.
Menjaga Api Tetap Menyala
Kisah Zohri di Finlandia adalah pengingat bahwa prestasi besar seringkali lahir dari kesunyian dan keterbatasan. Dari seorang anak yang berlari tanpa sepatu di pesisir Lombok hingga menjadi juara dunia, Zohri telah membuktikan bahwa lintasan lari adalah tempat di mana kerja keras berbicara lebih keras daripada status favorit.
Kini, tugas besar menanti federasi dan masyarakat olahraga Indonesia. Estafet ini tidak boleh berhenti. Jangan sampai pelari hebat kita kembali harus “celingak-celinguk” mencari bendera di atas podium kemenangan. Dukungan penuh, fasilitas yang mumpuni, serta apresiasi yang layak adalah bahan bakar agar bendera merah-putih bisa terus berkibar lebih dulu di garis finis internasional.